Giat Lazismu Madina
Kajian Tarjih Fikih Salat oleh Ustadz Nur Fauzi Lubis, M.Sos

Kajian Tarjih Fikih Salat oleh Ustadz Nur Fauzi Lubis, M.Sos

Salam dalam salat bukan sekadar penanda berakhirnya rangkaian ibadah, tetapi memiliki makna teologis dan sosial yang sangat dalam. Hal itu disampaikan Ustadz Nur Fauzi Lubis, M.Sos dalam Kajian Tarjih tentang fikih salat, khususnya pada bagian salam.

Menurutnya, salat adalah kebutuhan hidup seorang mukmin, bukan hanya kewajiban ritual semata. Di dalam salat terdapat penghambaan total kepada Allah, ketundukan jiwa, serta proses penyucian hati dari kesombongan dan kealpaan dunia.

“Puncak salat adalah salam dengan menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri. Seakan Allah mengajarkan bahwa setelah selesai bermunajat, kita wajib menebarkan keselamatan, kedamaian, dan kasih sayang kepada sesama,” jelasnya.

Gerakan salam dalam salat mengandung pesan spiritual yang kuat. Menoleh ke kanan dan ke kiri bukan hanya mengikuti tuntunan fikih, tetapi juga simbol kesiapan seorang hamba untuk kembali ke kehidupan sosial dengan membawa nilai-nilai ilahiah: damai, santun, dan penuh empati.

Ustadz Nur Fauzi menegaskan, salat yang benar tidak berhenti di atas sajadah. Salat sejati harus hidup dalam sikap, ucapan, dan perilaku sehari-hari. Jika seseorang rajin salat tetapi masih menyakiti orang lain, menebar kebencian, atau berlaku zalim, maka makna salam dalam salat belum benar-benar terwujud.

“Salat harus melahirkan akhlak. Salam adalah pesan bahwa iman tidak boleh egois. Ia harus hadir sebagai keselamatan bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.

Kajian ini mengingatkan umat Islam bahwa fikih salat bukan hanya soal sah atau tidaknya gerakan, tetapi juga bagaimana salat membentuk kepribadian yang membawa rahmat bagi sesama.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Sekarang